Bibletalks

Abide in My Love

Pertama-tama aku ingin mengajak untuk menelusuri apa arti dari kata ‘abide’ itu sendiri. Kalau kita cari di kamus, maka kita akan menemukan meaning dari ‘abide’ itu sendiri ada bermacam-macam. Seperti berikut:

  1. Accept or act in accordance with (rule, decision, commandment)
  2. Continue without fading or lost
  3. Live or dwell

So, apa, sih, yang mau aku bahas? Sebenarnya ini adalah salah khotbah di Minggu lalu, dengan tema utama ‘Loving the Bride’. Dan, judul di atas adalah salah satu sub temanya. Kenapa disebut ‘Loving the Bride’? Karena aku dan kamu adalah mempelai Kristus. Yes, kita ini adalah kekasih-kekasihnya Tuhan. Korelasi dengan kata ‘abide’ itu sendiri apa?

Jelas sekali bahwa Tuhan ingin kita ‘abide’ di dalam kasih-Nya. Accept/act di dalam kasih-Nya, mengasihi Dia without fading or lost, dan tinggal di dalam kasih-Nya. Susah nggak, sih? Buat aku sendiri susah, ya. Bayangkan sepasang suami istri. Ketika mereka baru menikah, segala sesuatunya kelihatan lebih mudah, mimpi-mimpi seolah sudah tergambar di depan mata, kemesraan satu sama lain masih membara. Bagaimana jika sudah lima tahun kemudian? Sepuluh tahun kemudian? Masih sama nggak, ya?

Kalau dihubungkan dengan kerohanianku, hubunganku dengan Tuhan sangat menggebu-gebu di awal aku mulai mengenal Tuhan. Tapi makin lama, kok, makin hambar, ya. Makin banyak ketidaksesuaian. Makin banyak pertentangan. Bahkan ‘perselingkuhan’ dengan dosa. Jika kamu adalah seorang suami atau istri melihat pasangan kamu nggak setia, sedih nggak? Begitu juga dengan hati Tuhan.

“Jika kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.” Yohanes 15:10

Aku bisa apa ketika aku ngga setia sama Tuhan? Tuhan bilang bahwa Dia adalah pokok anggur yang benar dan kamu adalah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak bisa berbuat apa-apa. (Yoh 15:5)

Jadi, aku nggak akan bisa berbuat apa-apa ketika aku di luar dari pokok anggur. Malah kata Tuhan kita akan dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. (Yoh 15:5)

Serem, ya.

Pokok anggur juga bisa diibaratkan sebagai tubuh Kristus. Kristus adalah kepala dan kita adalah anggota tubuh-Nya. Kalian tahu penyakit kanker? Bukan, itu bukan penyakit yang menjangkiti kita ketika sudah memasuki tanggal tua. Kanker adalah sel pemberontak yang menolak untuk mematuhi tubuh (tidak terkontrol). Butuh berapa sel untuk menjadi kanker? Ternyata hanya satu sel saja cukup untuk menjadi sel kanker yang mematikan.

Jika kamu adalah sel si pemberontak itu, maka satu-satunya cara agar tubuh itu tetap sehat adalah dengan menghancurkan sel kanker itu. Supaya tubuh itu tetap terjaga dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Kembali lagi, apakah kita mau menjadi bagian dari tubuh Kristus itu atau memilih untuk ‘tidak berfungsi’ dan dicampakkan ke dalam api?

Siapa bilang untuk mengasihi itu mudah? Tidak semua orang punya kapasitas untuk mengasihi. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku orangnya sangat cuek terhadap orang lain; ngga mau tahu hidup orang lain, menghabiskan waktu sendirian, jarang menjalin komunikasi dengan siapapun bahkan itu keluarga sendiri. It’s been my characters. Tapi, Tuhan mau nggak aku punya karakter seperti itu?

“Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6)

Siapa yang mau punya pasangan yang setia? *ngacung*

Pasti, ya. Tapi kita sendiri gimana? Sudah pantas belum?

Untuk tetap berada dalam kasih Tuhan, kita perlu setia dan bertekun. Tekun berarti melakukan sesuatu berulang-ulang meskipun itu sulit. Tanpa ketekunan tidak ada pertumbuhan dan perubahan.

Misal, aku ingin menjadi seorang pemain gitar, di tengah latihan aku menemukan kesulitan. “Aduh, susah banget sih belajar gitar. Stop, ah, belajar yang lain aja!” Kira-kira aku bakalan bisa bermain gitar ngga, ya?

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:3-5)

Seorang pelatih berteriak kepada seorang atlet lari 100 meter pada saat latihan, “waktumu masih terlalu lambat. Ulangi lagi!” Begitu terus sampai si pelari memenuhi target waktunya. Bayangkan jika si pelari menyerah di tengah-tengah latihan dan menelantarkan mimpinya untuk menjadi pemenang di olimpiade.

Butuh ketekunan untuk menjadi seorang pemenang. Masalah hadir bukan untuk dihindari, tapi dihadapi. Karena kesengsaraan menimbulkan ketekunan. Ketika kita tekun menghadapi masalah maka kita akan menjadi tahan uji (karakter). Kita punya karakter untuk tidak menyerah ketika masalah itu datang (menjadi kebiasaan). Dan ketika masalah datang kembali, kita jadi punya harapan bahwa kita bisa melewatinya. Kita menjadi orang yang tidak cepat berputus asa.

That’s the power of ketekunan!

“Kesuksesan bukanlah sebuah kebetulan. Itu hasil dari kerja keras, ketekunan, pembelajaran, pengorbanan, dan yang terpenting adalah cintai apa yang kamu lakukan.” –Pele.

Mengasihi butuh ketekunan? Ya, tentu saja. Aku sendiri masih butuh banyak latihan untuk mengasihi orang lain sampai itu benar-benar jadi karakterku. Butuh berapa lama? Sampai Tuhan memanggil tentunya. Tuhan tidak melihat hasil, Ia melihat proses. Ia melihat hati kita.

Pepatah makin tua makin jadi itu sebenarnya ngga terlalu buruk. Semakin tua, semakin banyak belajar, semakin jadi. Semakin jadi sesuai dengan kehendak-Nya.