Struggles

Halo, Moodswing..

Punya hidup yang dikontrol oleh perasaan? Yap, it’s not easy to be a moody-man. Aku sedang sangat teramat berjuang sekali melawan mood. It has taken control of my life up ’til now.   

Kepengen melakukan sesuatu karena mood. Kepengen makan sesuatu karena mood. Kepengen ngobrol dengan orang lain karena mood. Kepengen jalan-jalan karena mood. Kepengen apapun kudu harus ada mood. Sangat sulit sekali dipercaya bahwa itulah aku.

Perjuanganku yang terbesar adalah melawan diri sendiri. Me against my self. That’s my battlefield. And everyday I enter this neverending war. Kadang aku capek, dan lebih banyak kalah di dalam pertempuran itu daripada menangnya. Dengan keadaan yang seperti ini aku banyak mengecewakan diri sendiri dan orang lain, apalagi Tuhan.

Kadang aku ngerasa ngga berharga dan ngga layak. Dan itu malah membuat mood-ku makin down. Makin dalam lagi aku berkutat di lubang keputusasaan. Sampai aku bertanya-tanya sama Tuhan, “bagaimana aku bisa keluar dari sini, Tuhan?”

Dulu, aku mengenal ini sebagai salah satu bentuk depresi bahkan sempat kepikiran untuk mengonsumsi obat anti depresan. Karena aku merasa ada sesuatu yang salah dengan tubuhku. Bahkan sempat terbayang untuk bunuh diri.

Tapi, aku tahu bahwa aku ngga bisa terus-menerus seperti ini. Dikendalikan oleh perasaan atau oleh hal-hal lain yang bisa merusak suasana emosi. Seharusnya aku yang pegang kendali atas reaksi-reaksi yang terjadi pun atas pilihan-pilihan yang bisa aku ambil. Tapi, yang lebih penting dari itu semua adalah mencari pertolongan.

Aku sadar bahwa tidak ada seorangpun yang bisa hidup sendirian. Kita butuh orang lain. Kembali lagi, i’m controlled by my own mood. Aku harus bisa mengalahkan mood yang merajai demi mencari pertolongan: ngobrol dan cerita ke orang lain. Seberapa sulit untuk cerita ke orang lain? You’ll never know..

Dan, satu hal lagi yang membuat aku bertahan adalah karena jauh di dalam lubuk hati, aku percaya bahwa aku ngga pernah sendirian. Ada Pribadi yang entah bagaimana memampukan aku bahkan menjawab doa-doa kecilku ketika aku sedang takut, khawatir, atau ragu-ragu. Aku sedikit demi sedikit belajar untuk mengandalkan Tuhan setiap hari. Hanya karena aku tahu bahwa tubuh, tenaga, dan pikiranku terbatas. Aku punya limit dalam banyak hal. Aku butuh kekuatan yang limitless. Dari siapa? Dari Tuhan dan dari orang-orang yang bisa bantu untuk menguatkan aku.

Apakah aku masih dikuasai oleh mood? Ya, bahkan ketika aku bangun tidur, mood-ku sudah terlebih dulu menyapa dan membuat pikiran-pikiran negatif berseliweran di kepalaku memutuskan untuk bolos kerja, misalnya. Atau tidur lebih lama ketika liburan. Atau memutuskan untuk di kosan saja seharian dan mengunci diri dari dunia luar yang dingin dan penuh  dengan kemungkinan yang buruk.

Bedanya, sekarang aku sudah tahu harus apa dan bagaimana. Balik lagi, it depends on my decision. Mau terus berperang melawan diri sendiri atau tidak? Masih pake senjata kuno atau terus setiap hari upgrade senjata? Masih pakai strategi lama atau mau coba strategi baru? Mau perang sendirian atau sama Tuhan?

Aku percaya suatu saat nanti aku akan bisa mengatakan ‘bye, moodswing,’ dengan penuh kemenangan. Aku berdoa untuk diriku sendiri dan orang-orang di luar sana yang memiliki pergumulan yang sama. Kita, pasti bisa!

“Terpujilah Tuhan, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang.” (Mazmur 144:1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s