Saat Teduh

Speak the Truth

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” (2 Timotius 2:15)

Hari ini aku belajar betapa pentingnya mengatakan kebenaran firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Kadang ketika aku mau mengatakan kebenaran firman Tuhan ada perasaan malu atau ngga pantas atau takut dianggap sok bener. Tapi Tuhan bilang, aku harus terus berusaha melayakkan diriku di hadapan Tuhan dan jangan pernah malu untuk berterus terang memberitakan kebenaran.

Apa yg membuat aku takut berbicara kebenaran firman Tuhan? Dosa, rasa malu, fokus diri sendiri, dan sebagainya. Bagaimana cara aku melayakkan diri di hadapan Tuhan?

 ‘Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.”‘ (Matius 28:18)

Tuhan punya kuasa di sorga dan di bumi. Apa yang harus aku takutkan ketika aku punya Tuhan yang memiliki kuasa atas segalanya? Apa aku masih bergantung pada Tuhan? Apa aku mempercayai kuasa-Nya?

“Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.

Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.

Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.

Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.” (Yohanes 12:47-50)

Sangat ditegur ketika Tuhan bilang bahwa firman Tuhan adalah hakim ketika kita sendiri yang mengakui bahwa firman Tuhan adalah standar hidup kita tapi malah kitalah yang melanggar standar-standar itu dalam kehidupan sehari-hari.

Seberapa besar aku mau mengakui perkataan Tuhan sebagai satu-satunya hal yang mau kita dengar dan lakukan? Apa aku masih terus melakukan kehendakku sendiri atau kehendak Tuhan? Apa sebenarnya standar hidup yang aku pakai hari ini?

Hari ini aku mau terus instrospeksi diri apakah aku masih menggunakan standarnya Tuhan atau standar diri sendiri dalam setiap aspek kehidupanku dan kenapa aku masih ragu-ragu dan malu ketika aku mau mengatakan kebenaran padahal aku mengakui kebenaran firman Tuhan sebagai standar hidupku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s