Saat Teduh

Oleh Karena Kasih Karunia

Efesus 2:8-10 (TB) “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”

Dari perikop ini aku belajar bahwa karena kasih karunia Tuhan, aku sudah diselamatkan oleh iman. Tapi, apakah tujuan dari kasih karunia yang sudah Tuhan berikan? Firman Tuhan jelaskan bahwa supaya aku hidup dalam pekerjaan-pekerjaan baik yang sudah Ia persiapkan sebelumnya.

“Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yakobus 2:17).

Dengan adanya kasih karunia aku tidak semata-semata selamat oleh iman jika tidak disertai dengan perbuatan (pekerjaan2 baik). Sebab jika iman tanpa perbuatan, maka iman itu adalah mati.
Bagaimana orang lain bisa tahu bahwa aku adalah orang yang takut akan Tuhan jika aku tidak menunjukkannya lewat perbuatan dan ucapan? Seperti yang firman Tuhan bilang, maka semua itu sia-sia. Keyakinanku sia-sia..

Setelah aku menerima kasih karunia dari Tuhan, apa yang Tuhan aku mau lakukan?
1. Ramah: apakah aku sudah jadi orang yang ramah sejauh ini? Biasanya aku cuek dan ngga mau tahu masalah orang lain.
2. Penuh kasih mesra: aku orang yang sulit untuk mengasihi dan tidak mau dikasihi. Bagaimana sikapku untuk hal ini?
3. Saling mengampuni: apakah aku masih menyimpan kepahitan2 kepada orang lain?

Efesus 4:32 (TB) “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

Advertisements
Struggles

Halo, Moodswing..

Punya hidup yang dikontrol oleh perasaan? Yap, it’s not easy to be a moody-man. Aku sedang sangat teramat berjuang sekali melawan mood. It has taken control of my life up ’til now.   

Kepengen melakukan sesuatu karena mood. Kepengen makan sesuatu karena mood. Kepengen ngobrol dengan orang lain karena mood. Kepengen jalan-jalan karena mood. Kepengen apapun kudu harus ada mood. Sangat sulit sekali dipercaya bahwa itulah aku.

Perjuanganku yang terbesar adalah melawan diri sendiri. Me against my self. That’s my battlefield. And everyday I enter this neverending war. Kadang aku capek, dan lebih banyak kalah di dalam pertempuran itu daripada menangnya. Dengan keadaan yang seperti ini aku banyak mengecewakan diri sendiri dan orang lain, apalagi Tuhan.

Kadang aku ngerasa ngga berharga dan ngga layak. Dan itu malah membuat mood-ku makin down. Makin dalam lagi aku berkutat di lubang keputusasaan. Sampai aku bertanya-tanya sama Tuhan, “bagaimana aku bisa keluar dari sini, Tuhan?”

Dulu, aku mengenal ini sebagai salah satu bentuk depresi bahkan sempat kepikiran untuk mengonsumsi obat anti depresan. Karena aku merasa ada sesuatu yang salah dengan tubuhku. Bahkan sempat terbayang untuk bunuh diri.

Tapi, aku tahu bahwa aku ngga bisa terus-menerus seperti ini. Dikendalikan oleh perasaan atau oleh hal-hal lain yang bisa merusak suasana emosi. Seharusnya aku yang pegang kendali atas reaksi-reaksi yang terjadi pun atas pilihan-pilihan yang bisa aku ambil. Tapi, yang lebih penting dari itu semua adalah mencari pertolongan.

Aku sadar bahwa tidak ada seorangpun yang bisa hidup sendirian. Kita butuh orang lain. Kembali lagi, i’m controlled by my own mood. Aku harus bisa mengalahkan mood yang merajai demi mencari pertolongan: ngobrol dan cerita ke orang lain. Seberapa sulit untuk cerita ke orang lain? You’ll never know..

Dan, satu hal lagi yang membuat aku bertahan adalah karena jauh di dalam lubuk hati, aku percaya bahwa aku ngga pernah sendirian. Ada Pribadi yang entah bagaimana memampukan aku bahkan menjawab doa-doa kecilku ketika aku sedang takut, khawatir, atau ragu-ragu. Aku sedikit demi sedikit belajar untuk mengandalkan Tuhan setiap hari. Hanya karena aku tahu bahwa tubuh, tenaga, dan pikiranku terbatas. Aku punya limit dalam banyak hal. Aku butuh kekuatan yang limitless. Dari siapa? Dari Tuhan dan dari orang-orang yang bisa bantu untuk menguatkan aku.

Apakah aku masih dikuasai oleh mood? Ya, bahkan ketika aku bangun tidur, mood-ku sudah terlebih dulu menyapa dan membuat pikiran-pikiran negatif berseliweran di kepalaku memutuskan untuk bolos kerja, misalnya. Atau tidur lebih lama ketika liburan. Atau memutuskan untuk di kosan saja seharian dan mengunci diri dari dunia luar yang dingin dan penuh  dengan kemungkinan yang buruk.

Bedanya, sekarang aku sudah tahu harus apa dan bagaimana. Balik lagi, it depends on my decision. Mau terus berperang melawan diri sendiri atau tidak? Masih pake senjata kuno atau terus setiap hari upgrade senjata? Masih pakai strategi lama atau mau coba strategi baru? Mau perang sendirian atau sama Tuhan?

Aku percaya suatu saat nanti aku akan bisa mengatakan ‘bye, moodswing,’ dengan penuh kemenangan. Aku berdoa untuk diriku sendiri dan orang-orang di luar sana yang memiliki pergumulan yang sama. Kita, pasti bisa!

“Terpujilah Tuhan, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang.” (Mazmur 144:1)

Saat Teduh

Stop Judging!

“Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah.

Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.

Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian.” (Roma 2:1-3, 6-8, 11)

Sewaktu aku baca ayat ini, aku diingatkan kembali untuk jangan terlalu mudah menghakimi orang lain . Karena aku juga sebagai manusia, ngga sempurna, bahkan melakukan kesalahan yang sama seperti yang orang-orang lakukan.

Ketika ada orang yang berbuat dosa, aku ngga boleh menghakimi dia dan menjauhi dia. Tapi sebagai murid Tuhan aku harus bisa bantu kelemahan-kelemahan dia. Setidaknya aku berusaha untuk memberitahukan apa yang benar. Karena ketika aku melihat sesuatu yang salah dan aku ngga ngomong, maka aku juga ikut berdosa.

“Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah?

Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.” (Roma 2:6-8)

Tuhan akan membalas setiap orang yang menghakimi kesalahan orang lain sedangkan dia juga melakukan kesalahan yang sama. Ukuranku dalam menghakimi orang lain akan dipakai juga untuk mengukur kesalahanku sendiri. Jadi aku harus belajar berhati-hati untuk tidak mudah menghakimi orang lain dengan pikiranku sendiri.

“Sebab Allah tidak memandang bulu.” (Roma 2:12)

Dan Tuhan  tidak memandang siapapun kita. Dari latar belakang apa, suku apa, agama apa. Dia akan memperlakukan kita sama di hadapan-Nya. Ngga ada yang namanya keringanan dalam hal dosa apapun karena Tuhan itu adil. 

Saat Teduh

Speak the Truth

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” (2 Timotius 2:15)

Hari ini aku belajar betapa pentingnya mengatakan kebenaran firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Kadang ketika aku mau mengatakan kebenaran firman Tuhan ada perasaan malu atau ngga pantas atau takut dianggap sok bener. Tapi Tuhan bilang, aku harus terus berusaha melayakkan diriku di hadapan Tuhan dan jangan pernah malu untuk berterus terang memberitakan kebenaran.

Apa yg membuat aku takut berbicara kebenaran firman Tuhan? Dosa, rasa malu, fokus diri sendiri, dan sebagainya. Bagaimana cara aku melayakkan diri di hadapan Tuhan?

 ‘Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.”‘ (Matius 28:18)

Tuhan punya kuasa di sorga dan di bumi. Apa yang harus aku takutkan ketika aku punya Tuhan yang memiliki kuasa atas segalanya? Apa aku masih bergantung pada Tuhan? Apa aku mempercayai kuasa-Nya?

“Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.

Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.

Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.

Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.” (Yohanes 12:47-50)

Sangat ditegur ketika Tuhan bilang bahwa firman Tuhan adalah hakim ketika kita sendiri yang mengakui bahwa firman Tuhan adalah standar hidup kita tapi malah kitalah yang melanggar standar-standar itu dalam kehidupan sehari-hari.

Seberapa besar aku mau mengakui perkataan Tuhan sebagai satu-satunya hal yang mau kita dengar dan lakukan? Apa aku masih terus melakukan kehendakku sendiri atau kehendak Tuhan? Apa sebenarnya standar hidup yang aku pakai hari ini?

Hari ini aku mau terus instrospeksi diri apakah aku masih menggunakan standarnya Tuhan atau standar diri sendiri dalam setiap aspek kehidupanku dan kenapa aku masih ragu-ragu dan malu ketika aku mau mengatakan kebenaran padahal aku mengakui kebenaran firman Tuhan sebagai standar hidupku.

Bibletalks

Abide in My Love

Pertama-tama aku ingin mengajak untuk menelusuri apa arti dari kata ‘abide’ itu sendiri. Kalau kita cari di kamus, maka kita akan menemukan meaning dari ‘abide’ itu sendiri ada bermacam-macam. Seperti berikut:

  1. Accept or act in accordance with (rule, decision, commandment)
  2. Continue without fading or lost
  3. Live or dwell

So, apa, sih, yang mau aku bahas? Sebenarnya ini adalah salah khotbah di Minggu lalu, dengan tema utama ‘Loving the Bride’. Dan, judul di atas adalah salah satu sub temanya. Kenapa disebut ‘Loving the Bride’? Karena aku dan kamu adalah mempelai Kristus. Yes, kita ini adalah kekasih-kekasihnya Tuhan. Korelasi dengan kata ‘abide’ itu sendiri apa?

Jelas sekali bahwa Tuhan ingin kita ‘abide’ di dalam kasih-Nya. Accept/act di dalam kasih-Nya, mengasihi Dia without fading or lost, dan tinggal di dalam kasih-Nya. Susah nggak, sih? Buat aku sendiri susah, ya. Bayangkan sepasang suami istri. Ketika mereka baru menikah, segala sesuatunya kelihatan lebih mudah, mimpi-mimpi seolah sudah tergambar di depan mata, kemesraan satu sama lain masih membara. Bagaimana jika sudah lima tahun kemudian? Sepuluh tahun kemudian? Masih sama nggak, ya?

Kalau dihubungkan dengan kerohanianku, hubunganku dengan Tuhan sangat menggebu-gebu di awal aku mulai mengenal Tuhan. Tapi makin lama, kok, makin hambar, ya. Makin banyak ketidaksesuaian. Makin banyak pertentangan. Bahkan ‘perselingkuhan’ dengan dosa. Jika kamu adalah seorang suami atau istri melihat pasangan kamu nggak setia, sedih nggak? Begitu juga dengan hati Tuhan.

“Jika kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.” Yohanes 15:10

Aku bisa apa ketika aku ngga setia sama Tuhan? Tuhan bilang bahwa Dia adalah pokok anggur yang benar dan kamu adalah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak bisa berbuat apa-apa. (Yoh 15:5)

Jadi, aku nggak akan bisa berbuat apa-apa ketika aku di luar dari pokok anggur. Malah kata Tuhan kita akan dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. (Yoh 15:5)

Serem, ya.

Pokok anggur juga bisa diibaratkan sebagai tubuh Kristus. Kristus adalah kepala dan kita adalah anggota tubuh-Nya. Kalian tahu penyakit kanker? Bukan, itu bukan penyakit yang menjangkiti kita ketika sudah memasuki tanggal tua. Kanker adalah sel pemberontak yang menolak untuk mematuhi tubuh (tidak terkontrol). Butuh berapa sel untuk menjadi kanker? Ternyata hanya satu sel saja cukup untuk menjadi sel kanker yang mematikan.

Jika kamu adalah sel si pemberontak itu, maka satu-satunya cara agar tubuh itu tetap sehat adalah dengan menghancurkan sel kanker itu. Supaya tubuh itu tetap terjaga dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Kembali lagi, apakah kita mau menjadi bagian dari tubuh Kristus itu atau memilih untuk ‘tidak berfungsi’ dan dicampakkan ke dalam api?

Siapa bilang untuk mengasihi itu mudah? Tidak semua orang punya kapasitas untuk mengasihi. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku orangnya sangat cuek terhadap orang lain; ngga mau tahu hidup orang lain, menghabiskan waktu sendirian, jarang menjalin komunikasi dengan siapapun bahkan itu keluarga sendiri. It’s been my characters. Tapi, Tuhan mau nggak aku punya karakter seperti itu?

“Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6)

Siapa yang mau punya pasangan yang setia? *ngacung*

Pasti, ya. Tapi kita sendiri gimana? Sudah pantas belum?

Untuk tetap berada dalam kasih Tuhan, kita perlu setia dan bertekun. Tekun berarti melakukan sesuatu berulang-ulang meskipun itu sulit. Tanpa ketekunan tidak ada pertumbuhan dan perubahan.

Misal, aku ingin menjadi seorang pemain gitar, di tengah latihan aku menemukan kesulitan. “Aduh, susah banget sih belajar gitar. Stop, ah, belajar yang lain aja!” Kira-kira aku bakalan bisa bermain gitar ngga, ya?

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:3-5)

Seorang pelatih berteriak kepada seorang atlet lari 100 meter pada saat latihan, “waktumu masih terlalu lambat. Ulangi lagi!” Begitu terus sampai si pelari memenuhi target waktunya. Bayangkan jika si pelari menyerah di tengah-tengah latihan dan menelantarkan mimpinya untuk menjadi pemenang di olimpiade.

Butuh ketekunan untuk menjadi seorang pemenang. Masalah hadir bukan untuk dihindari, tapi dihadapi. Karena kesengsaraan menimbulkan ketekunan. Ketika kita tekun menghadapi masalah maka kita akan menjadi tahan uji (karakter). Kita punya karakter untuk tidak menyerah ketika masalah itu datang (menjadi kebiasaan). Dan ketika masalah datang kembali, kita jadi punya harapan bahwa kita bisa melewatinya. Kita menjadi orang yang tidak cepat berputus asa.

That’s the power of ketekunan!

“Kesuksesan bukanlah sebuah kebetulan. Itu hasil dari kerja keras, ketekunan, pembelajaran, pengorbanan, dan yang terpenting adalah cintai apa yang kamu lakukan.” –Pele.

Mengasihi butuh ketekunan? Ya, tentu saja. Aku sendiri masih butuh banyak latihan untuk mengasihi orang lain sampai itu benar-benar jadi karakterku. Butuh berapa lama? Sampai Tuhan memanggil tentunya. Tuhan tidak melihat hasil, Ia melihat proses. Ia melihat hati kita.

Pepatah makin tua makin jadi itu sebenarnya ngga terlalu buruk. Semakin tua, semakin banyak belajar, semakin jadi. Semakin jadi sesuai dengan kehendak-Nya.