Hancur

Akan selalu hadir, perasaan-perasaan seperti ini–rindu, gelisah, dan ketidak-kokohan pendirian. Seperti keping-keping sayap kecil tajam yang menancap, tepat di hati. Lalu, tubuh kecilku ini akan mudah diobrak-abrik dari dalam hingga pecah seperti gelas kaca yang dilempar anak kecil kala marah.

Banyak hal yang kuyakini, pun kuragukan. Maka, ketika pilihanku salah, aku tidak memukul-mukuli kakiku yang melangkah atau mengutuk jalan yang kutapaki. Aku menghinakan hatiku. Karena ia begitu lemah, begitu lembut, hingga setan-setan mampu masuk tanpa perlu berjerih payah. 

Lalu, apa yang kupercayai menjadi lebih sedikit dan pahit. Semakin gelap. Gelap. Gelap. 

Bahkan orang buta mampu melihat lebih baik daripada kedua bola mataku yang sehat. Sebab aku memilih hidup dalam kerinduan, kegelisahan, dan ketidak-kokohan pendirianku sendiri. Memunguti kepingan sayap kecil yang tajam, dan melesakkannya ke dalam hati. Menghancurkannya pelan-pelan, sedikit demi sedikit.

Rumah

Sudah sekian lama kaki ini berjalan, tapi tak kutemui rumah untuk hatiku–yang sepertimu. Aku rindu aroma dapur, di mana aku bisa menanak cita-cita dan meramu mimpi-mimpi menjadi nyata. Aku hanya mencipta jejak-jejak yang setiap sore hilang disapu hujan dan besok pagi dilupakan.

Bagaimana manusia bisa begitu mudah beralih? Sedangkan ingatanku tentang rumah adalah jelmaan sebuah pelukan hangat yang berbisik ‘ selamat datang, kini kau berada di tempat yang aman’.

Ke mana lagi jiwa ini harus berlabuh jika bukan pada dermaga di mana sungai akhirnya mampu mencium bibir laut? Aku rindu ciumanmu. Atau pelukanmu. Atau tatapan teduh itu. Atau apapun, selama mengingatmu adalah hal ternyaman yang pernah kulakukan.

Kau tahu? Jejak-jejakku yang hilang itu sesungguhnya sedang mencari keberadaanmu. Hujan tidak menghapusnya, ia hanya menghantarkannya semakin dekat padamu. Dan aku yakin, suatu hari nanti aku akan menemukanmu–rumah itu– dan tinggal di sana hingga akhir usia.

Penat

Bagaimana bisa aku kembali ke tempat di mana selamanya aku ingin pergi? Keegoisan telah mengantarkanku pada ruang yang lebih sepi. Mimpi-mimpi telah beranjak sejak lama dari sini.

Semua tanya menempati posisinya masing-masing, menarikan melodi kerinduan pada tempat di mana seharusnya aku berada. Alasan mengapa aku menukar itu semua pada kehidupan yang menawarkan pilihan yang ternyata tidak lebih baik dari sebelumnya.

Sungguh, seharusnya aku tidak berada di sini. Raga dan jiwaku ingin kembali pada kehidupan di mana dia masih berada. Masih bisa diraih, dijangkau dengan kedua lengan ini. Aku rindu. Rindu. Rindu..

Harus seperti apalagi mengatakannya? Aku ingin pergi ke tempatmu. Ke pangkuanmu. Bersandar pada pundakmu. Menghirup aroma khasmu. Suaramu.. Semuanya. Aku tidak ingin berada di sini. Aku hanya ingin bersamamu saja. Bolehkah?

Mencintai Dalam Diam

Kau tahu bagaimana rasanya mencintai dalam diam? Ketika rasa cintamu hanya sejauh doa? Sakit, kan?

Tapi, dalam lubuk hati kau sadar bahwa cinta tak selamanya harus memiliki. Lalu, kau sadar (lagi) bahwa setidaknya perasaan cinta itu harus dikatakan. Bagaimanapun hasilnya nanti.

Lantas, memikirkannya saja sudah membuat keberanianmu ciut. Berharap suatu saat, kesempatan itu datang.. Meski mungkin, itu adalah kesempatan terakhir yang Tuhan beri..

Mencintai dalam diam, memang sesakit itu.

21 November, 2015.

Kesendirian

Aku memahami kesendirian lebih dari siapapun. Rasanya seperti ketika kau terbangun pagi-pagi buta dan merasa sakit di bagian kepala, kau menemukan kesendirian sedang terbaring pulas di sampingmu. Tanpa sehelai benang. Wajahnya merona, tersenyum kecil. Seolah-olah kau usai bercinta hebat dengannya semalaman suntuk.

Selalu, dan selalu setelah itu, kau dan kesendirianmu akan mengandung rasa sepi dan melahirkannya setiap hari. Setiap hari. Muak.

Aku ingin berpisah dengan kesendirian. Aku ingin cerai. Dan menelantarkan anak-anak sepi itu ke tengah jalan, agar digilas truk, sepeda motor, bajaj, atau apapun yang kebetulan melintas..

Aku ingin bebas.

31 Oktober, 2015.

Jangan Menyerah!

Di depanmu, ia mungkin saja tersenyum. Menarik lebar – lebar bibirnya hingga membuat sebuah lengkungan yang sangat meyakinkan bagi siapapun yang melihatnya. Bertingkah ceria, berbinar – binar, melangkah dengan pasti dan yakin atas apa yang sedang dilakukannya selama ini. Ia percaya dalam hatinya, bahwa semua akan baik – baik saja.

Nyatanya, bisa saja, ketika bangun pagi, ia merasa sesak dalam dada. Keragu – raguan melanda. Mimpi – mimpinya bertabrakan dengan kenyataan. Orangtuanya berteriak dari seberang kamar menggedor – gedor pintunya dengan suara menggelegar. Memanggilnya dengan sebutan pemalas, tukang tidur, penggangguran tanpa masa depan..

Segala sesuatu yang dilakukannya tidak pernah benar di mata orang lain. Selalu saja ada ruang untuk kesalahan. Selalu ada ruang untuk omelan tanpa henti. Bisa saja ia menyumpal telinganya dengan kain, atau memasang musik dengan volume maksimal. Tapi, ia tidak melakukannya. Ia tahu bahwa tiap kata – kata menyakitkan yang keluar dari mulut orang lain adalah khilaf yang masih bisa mampu dimaafkan.

Jalan kesuksesan baginya harus dilalui dengan lemparan batu atau semburan api dari mulut naga. Cemooh tidak harus dibalas dengan cemooh. Sebaliknya, itu semua bisa dibalas dengan sebuah senyum. Tapi, tidak ada satupun manusia yang bisa menahan senyum di bibir untuk waktu yang sangat lama.

Kadang, ketika dunia sudah sepi dari kebisingan, ia menghadap Tuhan. Meminta perlindungan ketika keluarganya sendiri tidak memberinya rasa aman. Meminta penghiburan ketika teman – temannya justru menjauhi. Adakah tempat di dunia yang senyaman surga?

Penyesalan tidak berada dalam menu hidupnya. Semua sudah disediakan dalam satu paket kehidupan: sedari lahir hingga mati. Kita hanya menjalani berbagai keberuntungan dan kesialan dalam hidup. Apalagi? Setiap hari, yang ia lakukan hanya mengecek apa – apa saja yang belum ia syukuri. Sisanya hanyalah basa – basi yang tidak penting.

Dan untuk itu, ia menyerahkan hidup ke dalam tangannya sendiri. Berlari dengan kakinya sendiri. Tidak peduli siapa yang berada di belakang, di depan, atau yang berdiri di sampingnya. Ia membentuk nasibnya sendiri. Ia menginginkan sebuah evolusi.

Kelak, ia akan terbang dari cangkang kepompong yang membelenggunya. Nasib buruk akan membawanya pada sayap – sayap bergelimangan warna. Tidak ada lagi cemooh. Tidak ada lagi serapah. Semua itu telah berlalu. Justru, suatu saat ia akan mensyukuri duri – duri yang sempat menyakiti. Goresan – goresan luka membuatnya semakin hebat dan tidak terkalahkan.

Semangat!

20 September, 2015.


Tulisan ini didedikasikan untuk kamu, kamu, dan kamu yang sedang mendaki gunung kesuksesan. Berjuanglah! 🙂