Kumpulan Status Puisi

Ini adalah kumpulan status puisi saya di tahun 2013. Karena menurut saya sayang sekali kalau cuma sekedar ditulis terus hilang gitu aja, makanya saya susun aja, deh. Mau itu jelek atau bagus: gak penting. Yang pasti ini orisinal dan layak untuk dikenang :D

Juli, 29/2013

Sebenarnya kita hanya menghitung mundur usia.
Pada saatnya kita mati, lalu apa?
Seandainya ada kehidupan setelah kematian, dan aku tidak menemukanmu di kehidupanku yang kedua, untuk apa?
Pun jika aku hidup seribu tahun, jika kau tak ada, aku hidup untuk siapa?
Ketika aku ingin berlari menujumu, ketika pikiranku ingin mengelana ke arahmu, lantas kau menolakku, aku harus pulang ke mana?

Karena tidak ada tempat, atau pembaringan lelah, sungai sukacita atau taman bahagia, selain tempat aku tumbuh bersama doa-doamu. Tidak akan ada kepulangan termanis, selain kedua tanganmu yang merentang dari jauh.
Dan aku berlari, membenam diriku di pelukmu bersama matahari senja. Memadamkan bara rindu yang pecah di pelupuk mata.

Juli, 28/2013

Kubangan rindu itu kian melebar
lama kelamaan ia menjadi sungai, danau, telaga, dan lalu menjadi luas lautan,
kita terpaksa mengarungi kesepian masing-masing
berharap saling menemukan atau tidak sengaja dipertemukan.

Jarak dan waktu akan jadi sahabat kita yang karib
dan doa akan jadi perpanjangan tangan dan kaki
ketika rinduku ingin memeluk dan berlari ke arahmu :’)

Juli, 26/2013

Aku pulang
pada dadamu yang lapang
tempat paling subur dengan sabar:
mengisi kosong lembar
yang pernah kita lewati
sebelum akhirnya
kita mati.

Juli, 9/2013

Mungkin sebaiknya kita melipat rapi kenangan dalam lemari lalu dikunci.

Tapi, hidup tanpa kenangan.. Ah, siapa yang tahan?

Yasudah, buka lagi lemari itu. Hirup aroma kenangan itu dalam diam. Barangkali, kita belum bisa lepaskan. Barangkali, belum bisa relakan.

Juli, 1/2013

Mimpi yang menyesakkan kalbu.
Mimpi yang tercipta karena rindu.
Mimpi tentangmu.

Juni 24 /2013

Langkahku, langkahmu
tertahan
Pandangku, pandangmu
hamparan
Bibirmu, bibirku
kelopak surga
Tanganmu, tanganku
memetik cinta.

Juni, 5/2013

Di antara kedua sayapnya
memelukku penuh,
ada sebilah pedang
menembus dadaku

Juni, 4/2013

Aku merasa bahwa tiap kali aku melewati desa ini, yang disuguhkan adalah orang-orang dengan semangat yang telah redup di wajahnya.
Sepanjang jalan, kusaksikan mereka hanya duduk bersandar di tiang pintu rumah mereka, anakanak muda masih dengan keadaan kacau balau baru bangun tidur ditemani secangkir kopi yang telah dingin, dan para pekerja sawit yang sayu matanya, seolah dari dadanya ingin teriak : aku bosan!

Ah, pagi ini awan seperti bentangan sebuah selimut yang seratnya mulai koyak. Hujan baru saja turun semalam. Sepertinya aku juga ingin tidur di rumah saja seharian.

 May, 23/2013

Harap mampu merengkuh segala ketidakpastian dalam sebuah penantian.
Penantian akan sebuah keajaiban, sekalipun keajaiban itu takkan pernah terjadi.
Namun, mempercayai keajaiban kurasa tidak ada salahnya.
Karena menjadi dewasa, bahkan terlalu dewasa, hingga lupa bagaimana rasanya polos menjadi anak – anak, akan sangat terasa menyedihkan..
Mempercayai sesuatu pada fakta, data, logika, dan sebagainya menumpulkan hati sebagaimana banyak hal – hal kecil yang kita anggap remeh justru sangat besar kuasanya atas hidup kita.

Percaya pada keajaiban. Percaya bahwa masih ada sesuatu yang bergerak di luar kendali kita, ketika kita tidak mampu melakukan apa – apa selain menanti keajaiban–berharap keajaiban datang.

May,18/2013

Orangtua yang baik adalah orangtua yang tidak memaksakan mimpi – mimpinya kepada anak – anaknya. Justru sebaliknya, mimpi anak – anaknya adalah mimpinya juga.

Orangtua yang baik menikmati setiap proses juang dalam mencapai mimpi anak – anaknya.

Mereka mendukung. Mereka mendoa. Mereka selalu ada untuk menjadi tangan yang selalu sedia menjadi perpanjangan tangan anaknya dalam meraih bintang – bintangnya di langit ketika anak – anak mereka tidak mampu meraihnya sendirian..

May, 17/2013

Lari.. Lari..
Waktu mengejarmu, manusia.
Seperti harimau mengejar anak rusa..

Lari.. Lari..
Malam ganti pagi
Raih mimpimu lagi..

Lari.. Lari..
Mereka, menerkammu dengan segala daya
Jangan henti, walau luka..

Hingga usai usia ini
dan si harimau tua benar – benar mengalahkanmu
Larilah, lari!

May, 11/2013

Ketika hidup tidak memberikan pilihan kecuali bertahan..

Maka kuatkan apa pun yang ada padamu, genggam apa yang ada walau sedikit.
Bersyukur dalam diam, peluk orang-orang kausayang.
Maka, selama dalam pengasinganmu itu kau tidak akan merasa kurang hingga tiba giliranmu melangkah lagi, berjuang kembali.

May, 5/2013

Aku tak bisa cinta
Aku tak bisa rindu
Aku tak bisa nangis biru
Aku tak memberitahumu :
Bahwa di dalam aku mati
Menyimpan mayat – mayat busuk masa lalu
Yang kututupi rapat – rapat
Dengan gerendel pintu dari baja
Rantai tembaga

Sudah lama aku mengukir
Ayat – ayat kematianku sendiri
Kuwiridkan tengah malam, mata pejam
Berharap ragaku semati jiwaku
Namun, Tuhan minta aku hidup
Hingga tahun keseribu

Lantas kau tiba
Dengan cinta
Dengan rindu
Dengan pijar pada merah mawar
Dan memberitahuku bahwa
harap belum pengap
Musim yang muram akan tersudahi
Jalan – jalan rahasia kelak terjejaki

Katamu :
“Tanganmu tercipta untuk kugenggam,
Air matamu tercipta untuk bahagia kita,
Jangan sedih, jangan pedih.
Kita akan menggulung masa yang abu – abu itu
Ganti biru, ganti cerah matamu.”

Februari, 20/2013

Mungkin Tuhan ada di sana : di hatimu dan di pikiranmu. Tapi apa gunanya, jika Dia hanya ada di dalam di sana? Apakah Tuhan itu adalah sejenis makhluk yang kaupelihara, tapi kau larang keluar rumah? Jika kaubilang tubuhmu adalah ‘rumah Tuhan’ kenapa aku tidak pernah lihat Dia muncul dari balik pintumu?

Februari, 19/2013

Hei, pelamun. Mari jadikan mimpi sebagai alas kepala dan bumi sebagai selimutnya. Karena lama kau bertopang dagu, mengembara keliling semesta pada mampu yang ragu. Bukankah kau seperti ini, menjudikan hidup pada tangan – tangan yang ingin menjelajah lekuk tubuh dan memakunya sebagai pajangan rumah?
Dimana otak ketika hatimu teriak? Dimana mulut ketika matamu bengkak?
Sudahlah, tidurlah, mimpilah. Semoga nyata lebih indah dari mimpi belaka.
Sebab, wajan esok pagi siap sedia menggoreng mimpi – mimpi semalam di atas tungku amarahmu.

Januari, 26/2013

Abu masa lalu menebar angin di sekeliling kamar: empat-lima lembar aku tenggelam di kolam mata. Oh, ini aku dulu! Ya, dulu, dimana putihku denyar dan kilauku masih getar; limabelas tahun silam yang bergelombang

***

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s